1. Mimpi Indah
Hai, mungkin kalian sudah tidak asing lagi denganku. Bukan, bukan dengan aku, tapi dengan postingan instagram #tentangdiaku yang mungkin sudah bertebaran di mana-mana. Sekarang aku memutuskan untuk berbagi ceritaku dengannya di sini. Well, aku ingin menulis cerita tentang aku dan dia di sini karena aku juga ingin mencoba menulis kembali Hah, sudah berapa lama aku tidak menulis?
Jadi teman,izinkan aku, Honhon untuk menceritakan kisahku dengan si dia.
Banyak sekali cerita yang belum sempat aku sampaikan pada kalian. Terutama saat pertama kali aku bertemu dirinya. Kalian sudah tahu bahwa kami satu kampus bahkan satu kelas. Aku dan dia masuk jurusan yang sama yaitu jurnalistik. Kerjaan kami hanya menulis, menulis dan menulis. Awal semester, aku pikir jurusanku membosankan, tapi setelah aku bertemu dengannya, kurasa hari baruku telah tiba.
Sudah lama aku tidak jatuh hati pada seorang laki-laki. Biar kupikir.. mungkin terakhir kali aku menyukai laki-laki itu saat aku duduk di bangku 2 SMA. Itu pun cinta dalam hati yang bahasa gaulnya Cidaha. Baik, lupakan masa lalu dan selamat datang masa baruku.
Pertama kali masuk kelas, aku duduk di sebelahnya. Awalnya kupikir, siapa sih nih cowok, kok mukanya nyebelin banget ya?
Tuh kan, sebelum kenalan saja sudah membuatku berpikiran negative terlebih dahulu. Kulit kuning langsat seperti orang Indonesia kebanyakan, rambut depan sedikit rancung, kaos putih dibalut cardigan hijau, celana jins hitam yang senada dengan warna sepatu ketsnya. Dan matanya itu loh... kok rasanya mau nyolok aja itu mata karena saking kesalnya!!
"Hon, dia cakep ya?"
Bagai hantu di siang bolong, tiba-tiba perempuan berambut coklat yang dikuncir dua di bawah itu menepuk pundakku dan bertanya seperti itu.
"Aku Popi." Dia mengulurkan tangannya.
"Aku... kamu bisa panggil aku Honhon," jawabku smabil membalas uluran tangannya.
"Nama kamu aneh ih."
"Ya namanya juga nama panggilan." Aku cengengesan.
"Gimana Hon? Dia ganteng kan ya?"
Kulihat mata Popi bersinar saat memandangnya.
"Biasa aja," jawabku acuh. "Eh, mau ikut nggak? Katanya di belakang kampus ini tuh ada bukit kecil yang cocok banget buat baca buku."
"Nggak ah makasih. Aku ke kantin aja ah, Hon."
Dan kami berpisah.
Aku menuju belakang kampus dan benar saja, aku menemukan bukit yang tidak telalu tinggi. Banyak sekali mahasiswa di sana yang sedang membaca buku atau sekedar berbicang hangat dengan teman-temannya. Aku yang sedikit gemuk ini menaiki bukit dan duduk di salah satu karpet yang sudah di sediakan di sana. Mungin karena banyaknya mahasiswa yang datang, banyak juga karpet atau tikar yang disediakan di sana.
Kalau kalian tahu, kalian tidak akan bisa fokus membaca di sini karena angin sepoi yang terus mengusap kelopak mata kalian. Ngantuk. Kutaruh bukuku dan kubiarkan mataku terpejam.
Kalian tahu bahwa mimpi hanyalah bunga tidur? Tapi entah kenapa itu seperti nyata. Di mimpi itu, aku sedang membawa pot besar yang entah kenapa langsung ada di tanganku. Ya namanya juga mimpi, tidak ada awal dan tidak ada akhir. Muncul tiba-tiba. Seperti sosok laki-laki yang tiba-tiba hadir membantuku. Kaos putih dibalut cardigan hitam, celana hitam dan sepatu kets hitam. Oh, rambutnya juga hitam pekat. Mirip malaikat maut yang selal ada di drama Korea atau anime Jepang.
Wajahnya? Aku tidak bisa melihat wajahnya saat itu. Dia baik sekali. Entahlah, rasanya begitu nyaman saat ada di sampingnya. Kami ngobrol tentang banyak hal dari mulai siapa aku, dari mana asalku, apa cita-citaku, dan masih banyak obrolan lain yang tidak kuingat.
Aku teerbangun. Seperti hampir lima belas menit aku tertidur. Aku mengucek mataku sampai aku sadar ada secarik kertas di atas buku yang sedang kubaca.
Tulisannya : Udah bangun? Cepet hapus air liurnya!! :p
Eh benar saja. Ada yang basah di sekitar ujung bibirku. Kuhapus air liurku dan mengumpat dalam hati, "Ya Allah, era!!!"
"Siapa sih yang nulis beginian?!!" Aku meremas kertasnya dan membawanya pergi bersamaku. Sekali lagi, aku tidak tahu kenapa saat itu aku membawa kertas lusuh menyebalkan dari si pengirim. Kesal!!.
*Era : Bahasa Sunda dari malu.
Jadi teman,izinkan aku, Honhon untuk menceritakan kisahku dengan si dia.
Banyak sekali cerita yang belum sempat aku sampaikan pada kalian. Terutama saat pertama kali aku bertemu dirinya. Kalian sudah tahu bahwa kami satu kampus bahkan satu kelas. Aku dan dia masuk jurusan yang sama yaitu jurnalistik. Kerjaan kami hanya menulis, menulis dan menulis. Awal semester, aku pikir jurusanku membosankan, tapi setelah aku bertemu dengannya, kurasa hari baruku telah tiba.
Sudah lama aku tidak jatuh hati pada seorang laki-laki. Biar kupikir.. mungkin terakhir kali aku menyukai laki-laki itu saat aku duduk di bangku 2 SMA. Itu pun cinta dalam hati yang bahasa gaulnya Cidaha. Baik, lupakan masa lalu dan selamat datang masa baruku.
Pertama kali masuk kelas, aku duduk di sebelahnya. Awalnya kupikir, siapa sih nih cowok, kok mukanya nyebelin banget ya?
Tuh kan, sebelum kenalan saja sudah membuatku berpikiran negative terlebih dahulu. Kulit kuning langsat seperti orang Indonesia kebanyakan, rambut depan sedikit rancung, kaos putih dibalut cardigan hijau, celana jins hitam yang senada dengan warna sepatu ketsnya. Dan matanya itu loh... kok rasanya mau nyolok aja itu mata karena saking kesalnya!!
"Hon, dia cakep ya?"
Bagai hantu di siang bolong, tiba-tiba perempuan berambut coklat yang dikuncir dua di bawah itu menepuk pundakku dan bertanya seperti itu.
"Aku Popi." Dia mengulurkan tangannya.
"Aku... kamu bisa panggil aku Honhon," jawabku smabil membalas uluran tangannya.
"Nama kamu aneh ih."
"Ya namanya juga nama panggilan." Aku cengengesan.
"Gimana Hon? Dia ganteng kan ya?"
Kulihat mata Popi bersinar saat memandangnya.
"Biasa aja," jawabku acuh. "Eh, mau ikut nggak? Katanya di belakang kampus ini tuh ada bukit kecil yang cocok banget buat baca buku."
"Nggak ah makasih. Aku ke kantin aja ah, Hon."
Dan kami berpisah.
Aku menuju belakang kampus dan benar saja, aku menemukan bukit yang tidak telalu tinggi. Banyak sekali mahasiswa di sana yang sedang membaca buku atau sekedar berbicang hangat dengan teman-temannya. Aku yang sedikit gemuk ini menaiki bukit dan duduk di salah satu karpet yang sudah di sediakan di sana. Mungin karena banyaknya mahasiswa yang datang, banyak juga karpet atau tikar yang disediakan di sana.
Kalau kalian tahu, kalian tidak akan bisa fokus membaca di sini karena angin sepoi yang terus mengusap kelopak mata kalian. Ngantuk. Kutaruh bukuku dan kubiarkan mataku terpejam.
Kalian tahu bahwa mimpi hanyalah bunga tidur? Tapi entah kenapa itu seperti nyata. Di mimpi itu, aku sedang membawa pot besar yang entah kenapa langsung ada di tanganku. Ya namanya juga mimpi, tidak ada awal dan tidak ada akhir. Muncul tiba-tiba. Seperti sosok laki-laki yang tiba-tiba hadir membantuku. Kaos putih dibalut cardigan hitam, celana hitam dan sepatu kets hitam. Oh, rambutnya juga hitam pekat. Mirip malaikat maut yang selal ada di drama Korea atau anime Jepang.
Wajahnya? Aku tidak bisa melihat wajahnya saat itu. Dia baik sekali. Entahlah, rasanya begitu nyaman saat ada di sampingnya. Kami ngobrol tentang banyak hal dari mulai siapa aku, dari mana asalku, apa cita-citaku, dan masih banyak obrolan lain yang tidak kuingat.
Aku teerbangun. Seperti hampir lima belas menit aku tertidur. Aku mengucek mataku sampai aku sadar ada secarik kertas di atas buku yang sedang kubaca.
Tulisannya : Udah bangun? Cepet hapus air liurnya!! :p
Eh benar saja. Ada yang basah di sekitar ujung bibirku. Kuhapus air liurku dan mengumpat dalam hati, "Ya Allah, era!!!"
"Siapa sih yang nulis beginian?!!" Aku meremas kertasnya dan membawanya pergi bersamaku. Sekali lagi, aku tidak tahu kenapa saat itu aku membawa kertas lusuh menyebalkan dari si pengirim. Kesal!!.
*Era : Bahasa Sunda dari malu.

Komentar
Posting Komentar